Masalah siapa yang anda selesaikan?

Masalah Siapa yang Anda Selesaikan?

Apakah anda memiliki jawaban, atau anda bagian dari masalah? Pertanyaan itu sangat menusuk sehingga bisa langsung menghentikan seseorang dan menghadapi tanggung jawab pribadinya didalam hubungan yang kusut. Mungkin sekarang waktunya kita sebagai orangtua menanyakan itu dengan jujur terhadap diri kita. Kita bergumul dengan masalah mendidik anak kita, tapi ada beberapa kelemahan dalam pendekatan yang lebih dulu perlu diluruskan. Kebalikannya juga bisa benar. Ada saat ketika kita pikir sudah mendidik anak kita tapi pada saat itu juga kita bergumul dengan konflik kita sendiri yang belum terselesaikan.

Untuk menolong kita menghadapi masalah dan menjawabnya dengan tepat, saya ingin memberikan 4 prinsip untuk mengatur pendidikan anak dalam keluarga Kristen.

1. Positif

Membaca seluruh PB untuk mengerti apa yang Tuhan harapkan pada orang percaya dimasa anugrah ini. Anda akan menemukan beberapa “jangan” tapi begitu banyak perintah Tuhan yang positif. Saat kita mulai melakukan apa yang diinginkan Tuhan, kata “jangan” biasanya sudah mengambil tempatnya sendiri.

Sayangnya, sebagian orangtua telah mengadopsi kesesatan orang Kolose sebagai prinsip mereka dalam mendidik anak mereka: “jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini” (Col. 2:21, NIV). Kata “jangan lakukan ini” dan “jangan lakukan itu” dari pagi sampai malam, sampai anak yang malang itu harus berpikir apakah aman untuk bernafas. Dan dia jadi terjerat dalam jaring ketakutan dan kekhawatiran dengan melihat hidup dari kaca mata negative dan menetapkan larangan yang membuat dia terikat disetiap waktu. Belajar meletakan segala hal secara positif tidak penah mustahil: “Billy, tolong gunakan garpunya” daripada “jangan berani-berani makan dengan jarimu!” “Linda, rapikan kamarmu sekarang,” daripada “jangan berani keluar sebelum barang dikamarmu dirapikan!”

Dengan positif, kita tidak bermaksud melakukan rengekan terus menerus yang membuat anak kita capek dan mengilukan saraf mereka. “sisir rambutmu. Rapikan dasimu. Kancingkan jasmu. Berdiri tegak. Tahan bahumu. Ikat tali sepatumu. Cepat, kamu bisa terlambat.” Itu bentuk kritik yang keluar dari kebutuhan kita daripada anak kita. Kita lebih baik memberikan perintah itu kalau keluar dari semangat yang positif.

Ini bisa menghilangkan kritik negative yang sering diberikan orangtua. Standar Tuhan tinggi –yaitu kekudusannya. Tapi dia tahu kelemahan kita dan dia tidak terus menerus mengganggu kita karena kesalahan kita. Dalam suatu bagian Alkitab tentang pengampunan Tuhan, pemazmur berkata, “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Psa. 103:14, NASB). Rasul Yohanes berkata, “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 John 2:1, TLB). “Tapi jika kamu berdosa . . .” bukankah itu suatu tindakan yang pengertian? Kita perlu mendapatkan itu saat anak kita gagal menghidupi harapan kita.

Kritik merupakan elemen paling mengecilkan hati. Kita semua tahu apa artinya melakukan yang terbaik, yaitu hanya untuk melihat oranglain mendapatkan kesalahan didalamnya. Itu membuat kita merasa rendah diri, bersalah, dan tidak berarti; itu menghancurkan kepercayaan diri kita dan menghilangkan ambisi kita. Tapi banyak orangtua memberi anak mereka kritik yang negative. “apakah ini yang terbaik yang bisa kamu lakukan?” “baiklah, saya lihat kamu akhirnya bisa membersihkan kamarmu. Sekarang lakukan sekali lagi.” “Apakah nilai B adalah yang terbaik yang bisa kamu dapat di Matematika?” atau lebih buruk, saat kejadian tidak diharapkan muncul, kita berseru dengan marah, “tidak bisakah kamu melakukan sesuatu dengan benar?”

George adalah seorang muda dengan ego yang rusak. Dia berkata pada saya bahwa sudah menjadi tugasnya untuk membersihkan ruangan bawah ketika kecil. Dengan debu perapian, dan kotoran lain yang bertebaran dilantai. Seringkali saat dia sudah selesai, ayahnya mengambil sapu dari tangannya dan menemukan kotoran lainnya, memarahi dia atas pekerjaan buruk yang dilakukannya. Beberapa tahun kemudian dia menemukan kalau tidak mungkin membersihkan lantai seperti itu dengan satu sampai lima kali sapu. Tapi sudah terlambat menyelamatkan kepercayaan dirinya.

Betapa lebih efektif memacu anak dengan perintah yang hangat dan jujur, menyatakan kepercayaan pada kemampuan mereka dan optimis akan kemajuan mereka. “kerja bagus, bil. Kamu semakin baik.” “kamu meningkat dari C ke B. Itu bagus.” Anak-anak butuh dukungan. Kenyataannya itu menjadi factor utama perkembangan mereka kearah kedewasaan dan stabilitas. Kecenderungan kita untuk mengkritik dan kemalasan kita untuk memuji mencerminkan masalah yang belum terselesaikan dalam hidup kita. Itu mungkin sikap perfeksionis yang menuntut, kurangnya percaya diri, keinginan membuat diri kita terlihat lebih baik, atay mungkin suatu ketakukan kalau anak kita akan melebihi kita waktu kecil. Semua ini merupakan cerminan kesombongan. Semangat mengkritik kita merupakan keinginan daging kita untuk menutupi kelemahan kita. Saat kita membiarkan Tuhan mengurus kesombongan itu, kita bisa bebas menerima kelemahan anak kita, dan kemudian mampu menolong dia mengatasi hal itu melalui dorongan daripada kritik.

2. Tenang

Dalam buku ini beberapa kali saya menyebut tetap tenang dan menghindari kemarahan. Sebagian orang mungkin bertanya mengapa itu sangat penting. Bukankah Alkitab bicara tentang kemarahan Tuhan? Jika Tuhan marah kenapa kita tidak ? mungkin kita perlu memberi perbedaan. Seperti kita membedakan antara menghukum dan mendisiplin, dan antara takut dan hormat, jadi kita perlu membedakan kemarahan daging dan kemarahan yang benar.

Kemarahan Tuhan tidak mungkin emosi berdosa karena Tuhan tidak punya nature berdosa. Lain dari kobaran emosi, kemarahan Tuhan berlawanan dengan dosa. Tidak ada kekhawatiran, kebencian, atau kekasaran didalamnya, tapi hanya kegeraman atas dosa dan dampaknya. Itu tidak egois, tapi penting bagi nature kudusnya. Kemarahan Tuhan benar dan baik.

Seorang Kristen bisa memiliki kemarahan seperti Tuhan, saat kegeraman akan dosa atau ketidak adilan yang menggerakannya untuk melakukan tindakan membangun. Tapi itu dengan tidak egois termotivasi oleh kesalahan yang dilakukan pada orang lain daripada diri sendiri, dan itu bebas dari kekhawatiran, kebencian, dan kekerasan. Itu mungkin maksud perkataan Paulus, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Eph. 4:26a, NIV).

Terlalu banyak orangtua tidak serius saat mereka mencoba mengelompokan kemarahan mereka sebagai kegeraman yang benar. Itu hanya terdiri dari –kegilaan, kesakitan, dan kekerasan. Mereka mengeluarkan kemarahan mereka karena mereka terganggu, tidak nyaman, dipermalukan, atau ditantang, dan nature dosa meliputi semuanya itu. Saat mereka kehilangan kendali, mereka berurusan dengan masalah mereka sendiri, bukan anak, dan mereka tidak menangani masalah dengan baik.

Tuhan punya beberapa perkataan tentang emosi daging ini. “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu” (Psa. 37:8a, TLB). “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (Eph. 4:31, KJV). Untuk membedakannya, yang satu didihan perangai yang kehilangan kendali sedangkan yang lainnya bara yang menyala. Keduanya tidak mendapat tempat dalam kehidupan orangtua Kristen. “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (James 1:20, NIV). Tuhan sudah menyatakan ini pada saya, sangat sering sehingga saya akhirnya meminta anak saya mengatakan kalau kemurkaan saya muncul. Mereka biasanya lupa, tapi tawaran tetap ada. Saya membutuhkan semua pertolongan untuk mengatasi dosaku, termasuk dari anak saya.

Rasul Paulus memerintahkan kita jangan membangkitkan amarah anak kita (Eph. 6:4). Apa yang membangkitkan amarah anak? Biarlah Firman Tuhan yang menjawab. “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Prov. 15:1, NASB). Anak-anak bereaksi seperti orangtua. Saat seseorang bicara kepada mereka dengan nada marah, itu membuat mereka kesal dan memberontak. Itu seperti menggosokan amplas diemosi mereka. Kemudian saat mereka marah, orangtua menjadi lebih marah, dan lingkaran setan berakhir dalam percekcokan yang tidak ada untungnya. Jika anak dipukul dalam kemarahan itu, akan meningkatkan ketakutan dan memperdalam permusuhan. Dan baik dia kena pukul atau tidak, umumnya dia menjadi lebih jengkel dan tidak peduli serta kehilangan rasa hormat pada orangtua karena kemarahan yang ditimbulkan.

Saat cobaan untuk marah mengancam kita, itu saatnya kita bersama Tuhan menyelesaikannya. Jika sebagian bentuk koreksi dibutuhkan, suruh anak keruangannya dan katakan anda akan disana beberapa saat lagi. Kemudian kekamar, berlutut berdoa, dan minta Tuhan menghilangkan emosi yang tidak benar dan menggantikannya dengan ketenangan. Itu akan mempersiapkan anda untuk mendisiplin anak dengan efektif, untuk kebaikannya bukan anda.

“He who is slow to anger is better than the mighty, and he who rules his spirit, than he who captures a city” (Prov. 16:32 NASB).

3. Konsisten

Pola disiplin yang salah sudah umum disebagian besar keluarga. Itu bisa terjadi seperti ini. Billy kecil tidak mengindahkan perintah ibunya karena dia telah belajar mematikan suara ibunya. Itu sangat mudah. Saat saya masih kecil, saya hidup dekat rel kereta utama antar Philadelphia dan New York. Pengunjung dirumah kami merasa suara kereta sangat mengganggu, tapi saya sudah biasa. Kami telah belajar mengecilkan suara itu karena terbiasa dan itulah yang dilakukan Billy. Perintah pertama ibunya tidak lebih dari suara yang mengganggu. Itu tidak berarti apapun, jadi dia tidak mengindahkannya.

Kemudian ibunya mulai merengek. “Saya harap kamu belajar mentaati mama, Billy. Kenapa kamu tidak pernah melakukan perintah mama pertama kali? Saya sudah tidak tahu berbuat apalagi terhadap kamu.” Billy mulai merasakan kepuasan karena wanita kuat ini tidak bisa mengontrol dia. Tapi tidak lama, ibunya mengulangi perintahnya, nadanya makin tinggi, dan kemarahan meningkat. Kadang Billy bisa mendengar dengan baik dan melakukannya tepat pada saatnya sebelum meledak terutama saat mamanya mengeluarkan perkataan rutin “satu……dua…….” Dikejadian lain waktunya meleset dan mamanya meledak dan melakukan pemukulan. Umumnya, mamanya merasa bersalah karena hukumannya berlebihan, jadi hari berikutnya dia berusaha membiarkan Billy melakukan apapun untuk mengganti rasa bersalah itu. Dan Billy secara sistematis belajar seni kenakalan, kehilangan rasa hormat tidak hanya pad orangtuanya, tapi semua otoritas. “Because sentence against an evil work is not executed speedily, therefore the heart of the sons of men is fully set in them to do evil” (Eccl. 8:11, KJV). Solusi bagi situasi tragis ini adalah konsistensi. Koreksi harus dimulai saat ketidaktaatan pertama muncul. Saat pertama kita bicara biasa, kita mengharapkan ketaatan. Jika tidak, maka kita mengkoreksinya. Tidak ada ancaman kosong, peningkatan kemarahan, peningkatan nada teriakan, tapi dengan tenang, baik, dan kasih tapi tegas kalau kita melakukan apa yang kita katakan. Tongkat itu kemudian tidak akan dihubungkan lagi dengan pembalasan tapi dengan kasih, perhatian kasih agar anak kita belajar sukacita dan berkat dari semangat disiplin.

Konsistensi membutuhkan lebih banyak disiplin diri dipihak kita daripada yang lainnya. Menaikan nada suara kita lebih mudah dari berdiri, menghampiri, dan melayani dengan koreksi tegas tapi kasih saat ketidaktaatan pertama muncul. Tapi Tuhan akan menolong kita jika kita mengijinkannya. Buah Roh adalah pengendalian diri (Gal. 5:22-23). Pengendalian diri meliputi kemampuan melakukan hal yang benar disaat yang tepat. Dan waktu yang tepat untuk koreksi adalah saat ketidaktaatan muncul. Kita perlu melakukan tangkat “saat tidur” (Prov. 13:24, KIV), saat dibutuhkan. Saat kita mengijinkan Roh Tuhan mengatasi masalah kemalasan kita, kita mampu mendisiplin anak kita tentang itu.

Konsistensi juga meliputi tidak berubahnya standar yang kita jaga. Inilah cara Tuhan memperlakukan kita. “Akulah Tuhan,” kataNya. “Aku tidak berubah” (Mal. 3:6, KJV). Aturan harus fleksibel, dan pengecualian bisa dilakukan melihat situasi. Tapi secara umum, jika kita ingin mempertahankan prilaku tertentu, maka kita harus menekankan itu terus menerus. Menekankan itu sekarang dan mengabaikannya besok akan membingungkan anak.

Sebaliknya, membiarkan mereka melakukan hal yang tidak boleh sepanjang waktu, kemudian tiba-tiab menghukum mereka karena itu dalam kemarahan, akan menghancurkan tujuan pengajaran kita tentang disiplin diri. Saat kita memutuskan untuk mendidik anak kita dalam jalan Tuhan, kita pertama kali harus memberikan mereka penjelasan kenapa kita menginginkan standart prilaku ini dan bagaimana kita ingin menolong mereka untuk mengingatnya. Kemudian saat kita perlu mengkoreksi mereka, kita mengingatkan kembali kenapa kita mengharapkan ketaatan mereka, bagaimana sekarang ini kita akan menolong mereka mengingat, dan apa yang bisa mereka lakukan dimasa depan untuk menghindari koreksi ini. Perintah bersama dengan koreksi seperti ini akan mulai masuk kedalam prilaku anak dari tidak menyenangkan kepada rasa hormat yang sehat pada kita dan orang lain.

Konsistensi, berarti perjanjian antara ayah dan ibu akan standar prilaku dan metode koreksi. Sebagian anak yang memberontak bertumbuh dalam rumah dimana ayah dan ibunya saling mensabotase otoritas masing-masing. Satu orang terlalu keras dan yang lain terlalu longgar, dan masing-masing saling menandingi. Hasilnya adalah kurangnya rasa hormat diantara mereka. Anak kemudian belajar bagaimana mendapatkan keinginan mereka dengan memainkan orantuanya. Situasi seperti itu bisa dihindari jika ayah dan ibunya membahas masalah disiplin lebih dulu dan menyetujui aturannya dan bagaimana melakukannya. Bahkan saat ada harmonipun, anak-anak kadang berhasil mendapat keputusan berbeda dari orangtuanya. Itu saat untuk membackup, mengadakan pertemuan tingkat tinggi dan menyetujuinya.

Konsistensi juga meliputi menjaga perkataan kita. Jika kita membuat janji dan tidak ada syaratnya, kita tidak boleh melanggarnya. Dengan melakukan itu kita mengajar anak kita untuk melanggar perkataan mereka sendiri. Sebagian janji tidak bisa ditepati karena keadaan diluar control kita, seperti hujan disaat mau piknik atau kebutuhan mendadak yang perlu perhatian langsung. Kejadian itu bisa digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara pelanggaran janji dan terhalang keadaan. Hidup banyak kekecewaan, dan anak kita harus belajar bagaimana mengatasinya sedini mungkin. Kelemah lembutan kita disaat itu akan menolong. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan kepercayaan anak daripada perkataan orangtua yang bisa ditepati.

Konsistensi juga berarti adil. Setiap anak kita memiliki kepribadian dan tingkat kedewasaan yang berbeda, jadi aturan dan metode yang persis sama tidak bisa diberikan kepada setiap anak. Tapi harus ada kesamaan. Saya masih mendengar keluhan anak muda yang berkonsultasi dengan saya tentang orangtua yang tidak peduli pada mereka. Alasannya? Standar yang diberikan pada mereka berbeda dari saudara mereka, dan disiplin yang mereka terima lebih keras. Tuhan adil dalam memperlakukan kita (Psalm 89:14), dan kita juga harus begitu.

4. Kasih

Kita membahas dalam satu bab penuh tentang kasih terhadap anak, tapi kata-kata singkat perlu diulangi dalam konteks disiplin. Bahkan saat tongkat diayunkan, anak kita perlu merasakan kasih sekuat rasa sakit. Sebelum kita mengkoreksi mereka, kita menjelaskan kenapa kasih kita mengharuskan melakukan ini. Setelah kita mengkoreksi mereka, kita memeluk mereka dan terus meyakinkan mereka akan kasih kita. Tuhan akan menggunakan kasih kita untuk mendorong kasih dalam mereka, sampai mereka tumbuh ketitik dimana ketaatan mereka bukan karena menghindari ketidaknyamanan, tapi karena kasih tulus pada Tuhan dan kita. Dan inilah tujuan kedewasaan yang akan kita bangun.

Salah satu kesalahan menyedihkan yang dibuat orangtua adalah mengancam anak mereka dengan menarik kasih kita. “mama tidak sayang lagi kalau kamu lakukan itu.” Komentar seperti itu keluar dari ketidakamanan sang ibu, dan luka batin yang ada lama yang belum sembuh. Tuhan tidak mengancam menarik kasihnya dari anak-anakNya. Dia tetap mengasihi mereka bahkan saat mereka berdosa. Kepada bangsa Israel dia berkata, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Jer. 31:3, TLB). Saat kita mengasihi anak kita dengan kasihNya, itu tidak pernah berubah (1 Cor. 13:7-8). Maka disiplin kita akhirnya untuk keuntungan mereka daripada pengungkapan masalah kita, untuk memberkati semuanya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s