Posted in Komputer

4 Alasan Mengapa Menulis itu Penting?

Sejauh ini, kebutuhan akan terbitnya buku-buku di Indonesia masih sangat besar. Pada kalangan akademis di Indonesia saja, mereka yang diharapkan menjadi pelopor dalam menulis, jumlah guru atau dosen yang aktif menulis masih sangat sedikit. Menurut Widaryanto, yang dikutip Suroso (2004), baru seperdelapan persen (0,125%) dosen dari 45 perguruan tinggi negeri dan 1400 perguruan tinggi swasta di Indonesia yang berjumlah 1.850.000 orang akademisi, yang sudah menulis berupa artikel di surat kabar, jurnal, atau buku. Lebih lanjut, Mulyana (2004: 13) menyebutkan bahwa buku baru yang diterbitkan per tahun di Indonesia hanya berjumlah 3.000 judul. Hal ini masih kalah jauh dibandingkan jepang yang menerbitkan 40.000 judul, inggris 60.000 judul, amerika 100.000 judul per tahun. Seorang guru besar UPI Bandung, yang juga seorang pakar menulis yang berhasil memprovokasi mahasiswanya untuk menulis.. Chaedar Alwasilah, pernah mengklaim bahwa hanya sedikit dari sekian banyak doktor di Indonesia yang pernah menulis buku.

Setiap penulis mempunyai alasan yang berbeda dalam menulis dan menerbitkan buku. Walaupun ada beberapa penulis yang memiliki alasan yang kompleks, kebanyakan alasan orang menulis sangat sederhana sehingga bisa diikuti oleh banyak orang.

Pertama-tama akan kita bahas hakikat sebuah buku. Buku dimulai dengan tulisan yang dibuat seseorang, yang berawal dari huruf, kemudian tersusun menjadi kata demi kata, baris demi baris, lalu paragraf demi paragraph, membentuk bab demi bab, sampai akhirnya menjadi sebuah buku. Berapapun tebalnya sebuah buku, ia dibentuk dari satu halaman ke halaman berikut. Jadi sederhananya, untuk dapat membuat buku, yang diperlukan pada awalnya adalah kemampuan dan keinginan untuk menulis. Jadi, pertama-tama aktivitas menulislah yang harus kita budayakan.

Akan tetapi, sesungguhnya, untuk apa kita membudayakan aktivitas menulis? Belum tentu semua orang yang aktif menulis akan menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku, bukan? Protes itu tidak salah. Meskipun demikian, kita harus membiasakan diri kita melihat gambaran yang lebih besar. Untuk itu, berikut ini kami sajikan beberapa manfaat aktivitas menulis.

     1. Membiasakan Diri Berpikir Sistematis

Pada waktu menulis, seorang penulis yang sekaligus berperan sebagai editor akan melakukan pembacaan (pemeriksaan) ulang sampai bahasa dan susunan substansi karangan mudah dipahami oleh pembaca. Hal ini tidak mudah, mengingat tulisan adalah bentuk komunikasi satu arah. Artinya, ketidakjelasan isi tulisan tidak dapat dikonfrontasi langsung ke sang penulis yang tidak bertatap muka dengan pembacanya. Menulis jauh lebih sulit daripada bicara, alhasil banyak orang yang sangat hebat dalam komunikasi lisan (berbicara), namun sangat payah dalam menulis. Jadi, dengan membiasakan menulis sejak dini, seseorang akan terbiasa berpikir secara sistematis. Sebranek(2001) dalam Alwasilah(2005) menyatakan :

“Ada beberapa alasan mengapa menulis itu bagus, di antaranya, menulis mendorong kita berpikit secara sistematis. Menuliskan gagasan baru membantu kita memahami hal tersebut dengan baik. Dengan demikian, kita bisa berbagi pengalaman; kemampuan kita dalam belajar juga meningkat”.

Kutipan tersebut menyatakan bahwa kemampuan menulis dalam belajar juga meningkat bila diaktifkan terus menerus, kemampuan penulis akan membuat penulis hidup bersemangat sampai akhir hayatnya.

2. Menulis adalah Membagikan Keahlian

Seorang ahli dapat memvalidasi keahliannya – pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills) – serta sikap (attitude) dengan menulis. Dosen, guru, atau professional lainnya yang sudah menggeluti pekerjaannya lebih dari dua tahun sesungguhnya sudah bisa disebut ahli dalam bidangnya. Sebagai contoh, orang Jepang yang dikirim ke Indonesia biasanya sudah mempunyai pengalaman dalam bidangnya selama dua tahun. Pada waktu dikirim ke Indonesia dengan dokumen resmi, dia dinyatakan sebagai tenaga ahli muda (junior expert). Bila dia sudah bekerja dua tahun di Indonesia, kemudian masa kerjanya diperpanjang, dia akan dinyatakan sebagai tenaga ahli (senior expert). Jadi, jika anda mempunyai pengalaman di bidang tertentu lebih dari tiga tahun, sebetulnya anda sudah mempunyai keahlian unik yang tidak dimiliki oleh orang lain. Pengetahuan dan keterampilan yang anda miliki atau peroleh selama itu pasti unik, tidak sama dengan yang lain, yang bila dituangkan dalam bentuk tulisan pasti bermanfaat bagi orang lain. Sebagai ahli, kita selayaknya dengan senang hati memberikan atau mewariskan ilmu kita kepada orang lain dalam bentuk tulisan sebab bila tidak ditulis, keahlian hanya bisa dibagikan dengan cara tatap muka seperti mengajar, melatih, melakukan workshop atau lokakarya, seminar, dan sebagainya. Hal ini akan terhenti ketika kita sudah pension atau tidak aktif lagi bekerja. Kita tidak bisa lagi membagikan ilmu kita. Ilmu kita akan hilang tak berbekas, tak berguna bagi kemaslahatan bersama.

3. Menulis adalah Aktivitas yang Menyehatkan

Sering kita menerima nasihat agar kita menyalurkan depresi atau stress, kekecewaan, dan kemurungan kita dengan hal-hal yang positif. Seorang rekan penulis mengungkapkan bahwa salah satu bentuk pelepasan terhadap stress dapat dilakukan lewat membuat tulisan. Sebagai contoh, jika anda marah kepada seseorang atau pada suatu situasi, menuangkan perasaan anda dalam bentuk tulisan di buku harian anda, misalnya, akan sangat membantu, terutama bila anda adalah tipe orang yang introvert atau tertutup, yang tidak dapat mengungkapkan perasaan  secara bebas dan ekspresif. Dengan menuliskan keluhan anda, anda telah mengeluarkan setidaknya sebagian energi negatif dari tubuh anda. Bayangkan bila apa yang anda tulis ternyata berpotensi untuk dijual (untuk tulisan seperti memoir). Jadi, mari kita cegah stress yang bisa menimbulkan berbagai penyakit ini dengan menulis.

4. Menulis Menghindarkan Kita dari Aktivitas Negatif

Seorang penulis dituntut untuk banyak membaca, meringkas, menyimpulkan, dan mengungkapkan kembali apa yang sudah dibacanya. Kesibukan membaca dan menulis menyita waktu sehingga bahkan seorang penulis yang idenya sedang deras mengalir pun bisa jadi keasyikan dan lupa waktu, tetapi tidak berarti dia lalu melupakan kewajiban utamanya. Jadi, seorang penulis tidak akan menggunakan waktunya sia-sia dengan misalnya menggunjingkan orang lain, menunda-nunda pekerjaan, dan lain sebagainya.  Demikianlah beberapa manfaat menulis. Dari paparan di atas, jelaslah bahwa sangat baik jika menulis menjadi bagian dari keseharian kita. Banyak manfaat yang muncul dari kegiatan menulis yang bukan saja dapat dinikmati oleh penulis yang bersangkutan tetapi juga orang lain.

Selanjutnya, kita dapat memikirkan bagaimana kegiatan menulis itu dapat mendatangkan sesuatu yang lebih bagi kita, misalnya pengakuan, kemashyuran, dan uang. Hal ini dapat terwujud jika tulisan kita diterbitkan dalam bentuk buku. Untuk itu, kita harus mengembangkan lagi diri kita, demi membuat tulisan yang bukan sekedar tulisan, tetapi tulisan yang memiliki daya jual. Sangat menyenangkan jika kita tidak hanya mendapatkan tambahan penghasilan dari menulis, tetapi juga memperoleh kemakmuran dari kegiatan menulis.

Advertisements

Author:

Saya dilahirkan di samarinda, 17 Maret 1994. Promosi siapa tahu dikirimkan hadiah kan?. Memiliki kedua orang tua sudah membuatku cukup dalam menghadapi hari-hariku. Mereka sumber semangatku setiap hari. Tanpa terasa blog ini sudah berumur 4 tahun. Untuk kalian semua yang merasa terinspirasi lewat postingan saya. Bisa share dan comment demi kemajuan blog ini ya. Ohya sekedar info saya mempunyai email yang khusus buat yang perlu jasa pengetikan berbayar ya. Ini email saya : nianshop14@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s