Pulang Cape…

Halo sobat cyber semuanya, apakabar kalian semua? kuharap pada sehat-sehat semuanya. Mohon maaf kalau akhir2 ini saya tidak ngepost. Padahal waktu ya ada aja, cuman waktunya lebih ke ngelamun masa depan hehehe :D. Yah belakangan ini saya berpikir untuk mencari pekerjaan lain, namun belum dapat sampai saat ini, sudah di interview 2 kali di PT. Telkom. namun tidak ada panggilan seminggu lebih haha banyak saingan brooo XD, karena itu saya memutuskan untuk tetap bekerja di perpustakaan smk 5 saja lagipula lebih banyak waktu buat membuat tulisan juga.

Ya, sudah cukup curhatnya, kenapa judul posting saya itu? hmm… anda penasaran? 😀 pastinya. Kalo weekend gini biasanya kegiatan saya main musik dan badminton. Kalau musik ya lebih ke otak kanan dan penyesuaian nada. Kebetulan saya lebih ke alat keyboard selama ini yang saya tekuni. Nah, olahraga yang saya sukai memang badminton sampai saat ini. Jadi, tadi saya sudah 2,5 jam mungkin lebih bermain ini seminggu sekali. Makanya, agak ngos2an hahaha :D. Sebenarnya saya kepingin untuk berenang, cuman waktunya lagi belum ada. Olahraga yang bisa membuat kita cape namun sehat badan terasa lebih ringan, juga membuat mood kita lebih bahagia. Cukup, blog saya saat ini memang singkat, harap  dimaklumkan karena masih belajar. Oke, terima kasih GBU all 🙂

Membahas Nice Guy and Bad Boy

nice-vs-bad

Halo para pengunjung blog ini, lama saya gak posting. Pada kesempatan ini aku mau membagikan suatu pengetahuan yang sudah aku terima berdasarkan suatu ebook yang berjudul “Nice Guy and Bad Boy”. Ebook ini ditulis oleh seorang master percintaan bernama iboy shapiro. Yang kemudian saya rangkum sendiri berdasarkan pemahamanku. Dia memberikan saya pencerahan bagaimana seharusnya seorang pria dalam suatu hubungan dengan wanita. Nah, ada 2 pria yang berbeda yang dibahas dalam ebook ini. Suatu kisah pengalaman dari iboy saphiro yang tertuang dalam ebook ini. Aku masih penasaran apa sih yang diinginkan oleh wanita dari seorang pria. Dalam ebook ini penjelasan mengenai Nice guy yang adalah seorang pria yang mempunyai sifat baik kepada wanita lembut dan peduli terhadap wanita, malah sering disakiti oleh wanita. Menanggapi hal tersebut, loh, kok bisa.. padahal di dunia ini terdapat hukum tarik menarik.

Jika kita berbuat baik kepada wanita, maka sebaliknya kita malah mendapatkan pujian dari wanita karena kebaikan itu, bukan begitu seharusnya ??. Namun, yang terjadi malah sebaliknya jenis pria ini malah disakiti oleh wanita. Ironis bukan?. Kebaikan malah dibalas dengan ketidak baikan wkwkwkwk :D. Dramatis emang!. Tapi inilah realita hidup yang kita jalani saat ini.

Justru malah bad boy yang memiliki sifat ego yang tinggi, mau menang sendiri. Tidak peduli terhadap perasaan wanita. Artinya, kalo dia ngajak dating atau kegiatan apapun tanpa harus persetujuan wanita. Malah, wanita mau dan penasaran ingin selalu berada di dekatnya. Ini sungguh aneh.:/. Tapi balik lagi ini memang suatu realita hidup yang kita jalani saat ini. Pernahkan anda mendengar bahkan melihat perilaku kasar seorang pria yang tega menindas wanita dengan sewenang-wenang. Malah wanita ini dengan sabar menghadapinya dan berharap suatu saat nanti sikap dia berubah kepada wanita ini dan akan menyayangi dia dengan tulus.

Semakin, saya membaca ebook ini saya semakin mengerti, bahwa emosi wanita ini memiliki gelombang yang membuat pria ini tidak mengerti apa yang diinginkan oleh mereka. Rupanya, ada suatu penelitian para ilmuwan membuat saya mengerti ternyata wanita memiliki masa ovulasi. Yaitu, masa dimana wanita menginginkan pria bad boy. Begini penjelasannya, para ilmuwan ini mengambil sample dari 104 wanita yang diuji dengan beberapa gambar pria yang berparas lembut, sensitif, yang bukan bad boy dan beberapa gambar pria yang berparas kuat, gagah, dan keras. Dalam waktu 3 bulan mereka memilih pria yang berparas lembut atau nice guy. Namun, setelah lewat 3 bulan mereka menginginkan pria yang gagah perkasa yang bisa memimpin mereka, atau yang ber-gen tarzan. Anggapannya seperti itulah. Seperti itulah masa ovulasi. Sekian dari sharing saya tentang Nice Guy and Bad Girl eh salah.. 😀 Nice guy and Bad Boy ni yang bener…

Akhir kata, terima kasih sudah berkunjung ke blog ini !

Keep Spirit, and love your life !

KUMPULAN PUISI TENTANG CINTA <3

PUISI TENTANG CINTA !

Postingan kali ini saya akan memberikan kamu kumpulan puisi yang sudah saya rangkum dari beberapa puisi karya orang lain yang berhubungan dengan cinta. Tujuan saya hanya ingin berbagi dengan anda. PUISI ini sangat cocok untuk anda berikan pada pasangan anda atau sahabat anda yang lagi PDKT sama cewek yang disukainya. Hmmm… 🙂 beda ama saya yang masih jomblo. wkwkwk curhat dikit gpp kali.

MENCINTAI ITU BUKAN BERARTI MEMILIKI
Puisi JN

Aku mencintai mu,
seadanya diri mu tiada yang lain
nama mu indah terpahat di dalam
hal ini…

Aku mencintai mu..
bersama kerinduan tiada bertepi
dari pagi yang indah hingga malam
yang nyaman tiada terhitung rindu ini

Aku mencintai mu,
dari segala kelebihan mu
dan dari segala kekurangan mu

Aku mencintai mu,
tiada yang dapat ku persembahkan
tiada kata berkias seindah rembulan malam
tiada kata berkias seindah terbitnya mentari..

Aku cintai mu,
tanpa mengharap diri mu
menjadi milik ku abadi..
kerana aku mencintai mu dengan,
hati yang paling iklas..hanya pada mu sayang!
kerana ku tahu,

Mencintai Itu Bukan Bererti Memiliki..
Dan Semoga cinta ku akan setia hanya pada mu..
Semoga ya sayang!eeemmm!

 

CINTA SEJATI
Puisi Adelia Lintang Kirana

Ku bangun istana cinta diatas setiaku
Ku lindungi dindingnya dengan percayaku
Ku hiasi semuanya dengan keihklasanku
Ku rawat keteguhanya dengan ketulusanku
Dan ku ciptakan kedamaian dengan kasih sayangku

Andai takdir tak merenggutmu
Andai ku bisa menjaga keabadian hidupmu
Aku bukan Tuhan Yang Maha Mampu
Mengendalikan semua apa yang ku mau
Aku juga bukan malaikat penjagamu
Yang slu menemanimu sepanjang waktu

Ku hanya kasih dalam hatimu
Cinta dalam hidupmu
Rindu dalam nafasmu
Yang kan tetap hidup dalam sanubarimu

Continue reading “KUMPULAN PUISI TENTANG CINTA <3”

Masalah siapa yang anda selesaikan?

Masalah Siapa yang Anda Selesaikan?

Apakah anda memiliki jawaban, atau anda bagian dari masalah? Pertanyaan itu sangat menusuk sehingga bisa langsung menghentikan seseorang dan menghadapi tanggung jawab pribadinya didalam hubungan yang kusut. Mungkin sekarang waktunya kita sebagai orangtua menanyakan itu dengan jujur terhadap diri kita. Kita bergumul dengan masalah mendidik anak kita, tapi ada beberapa kelemahan dalam pendekatan yang lebih dulu perlu diluruskan. Kebalikannya juga bisa benar. Ada saat ketika kita pikir sudah mendidik anak kita tapi pada saat itu juga kita bergumul dengan konflik kita sendiri yang belum terselesaikan.

Untuk menolong kita menghadapi masalah dan menjawabnya dengan tepat, saya ingin memberikan 4 prinsip untuk mengatur pendidikan anak dalam keluarga Kristen.

1. Positif

Membaca seluruh PB untuk mengerti apa yang Tuhan harapkan pada orang percaya dimasa anugrah ini. Anda akan menemukan beberapa “jangan” tapi begitu banyak perintah Tuhan yang positif. Saat kita mulai melakukan apa yang diinginkan Tuhan, kata “jangan” biasanya sudah mengambil tempatnya sendiri.

Sayangnya, sebagian orangtua telah mengadopsi kesesatan orang Kolose sebagai prinsip mereka dalam mendidik anak mereka: “jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini” (Col. 2:21, NIV). Kata “jangan lakukan ini” dan “jangan lakukan itu” dari pagi sampai malam, sampai anak yang malang itu harus berpikir apakah aman untuk bernafas. Dan dia jadi terjerat dalam jaring ketakutan dan kekhawatiran dengan melihat hidup dari kaca mata negative dan menetapkan larangan yang membuat dia terikat disetiap waktu. Belajar meletakan segala hal secara positif tidak penah mustahil: “Billy, tolong gunakan garpunya” daripada “jangan berani-berani makan dengan jarimu!” “Linda, rapikan kamarmu sekarang,” daripada “jangan berani keluar sebelum barang dikamarmu dirapikan!”

Dengan positif, kita tidak bermaksud melakukan rengekan terus menerus yang membuat anak kita capek dan mengilukan saraf mereka. “sisir rambutmu. Rapikan dasimu. Kancingkan jasmu. Berdiri tegak. Tahan bahumu. Ikat tali sepatumu. Cepat, kamu bisa terlambat.” Itu bentuk kritik yang keluar dari kebutuhan kita daripada anak kita. Kita lebih baik memberikan perintah itu kalau keluar dari semangat yang positif.

Ini bisa menghilangkan kritik negative yang sering diberikan orangtua. Standar Tuhan tinggi –yaitu kekudusannya. Tapi dia tahu kelemahan kita dan dia tidak terus menerus mengganggu kita karena kesalahan kita. Dalam suatu bagian Alkitab tentang pengampunan Tuhan, pemazmur berkata, “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Psa. 103:14, NASB). Rasul Yohanes berkata, “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 John 2:1, TLB). “Tapi jika kamu berdosa . . .” bukankah itu suatu tindakan yang pengertian? Kita perlu mendapatkan itu saat anak kita gagal menghidupi harapan kita.

Kritik merupakan elemen paling mengecilkan hati. Kita semua tahu apa artinya melakukan yang terbaik, yaitu hanya untuk melihat oranglain mendapatkan kesalahan didalamnya. Itu membuat kita merasa rendah diri, bersalah, dan tidak berarti; itu menghancurkan kepercayaan diri kita dan menghilangkan ambisi kita. Tapi banyak orangtua memberi anak mereka kritik yang negative. “apakah ini yang terbaik yang bisa kamu lakukan?” “baiklah, saya lihat kamu akhirnya bisa membersihkan kamarmu. Sekarang lakukan sekali lagi.” “Apakah nilai B adalah yang terbaik yang bisa kamu dapat di Matematika?” atau lebih buruk, saat kejadian tidak diharapkan muncul, kita berseru dengan marah, “tidak bisakah kamu melakukan sesuatu dengan benar?”

George adalah seorang muda dengan ego yang rusak. Dia berkata pada saya bahwa sudah menjadi tugasnya untuk membersihkan ruangan bawah ketika kecil. Dengan debu perapian, dan kotoran lain yang bertebaran dilantai. Seringkali saat dia sudah selesai, ayahnya mengambil sapu dari tangannya dan menemukan kotoran lainnya, memarahi dia atas pekerjaan buruk yang dilakukannya. Beberapa tahun kemudian dia menemukan kalau tidak mungkin membersihkan lantai seperti itu dengan satu sampai lima kali sapu. Tapi sudah terlambat menyelamatkan kepercayaan dirinya.

Betapa lebih efektif memacu anak dengan perintah yang hangat dan jujur, menyatakan kepercayaan pada kemampuan mereka dan optimis akan kemajuan mereka. “kerja bagus, bil. Kamu semakin baik.” “kamu meningkat dari C ke B. Itu bagus.” Anak-anak butuh dukungan. Kenyataannya itu menjadi factor utama perkembangan mereka kearah kedewasaan dan stabilitas. Kecenderungan kita untuk mengkritik dan kemalasan kita untuk memuji mencerminkan masalah yang belum terselesaikan dalam hidup kita. Itu mungkin sikap perfeksionis yang menuntut, kurangnya percaya diri, keinginan membuat diri kita terlihat lebih baik, atay mungkin suatu ketakukan kalau anak kita akan melebihi kita waktu kecil. Semua ini merupakan cerminan kesombongan. Semangat mengkritik kita merupakan keinginan daging kita untuk menutupi kelemahan kita. Saat kita membiarkan Tuhan mengurus kesombongan itu, kita bisa bebas menerima kelemahan anak kita, dan kemudian mampu menolong dia mengatasi hal itu melalui dorongan daripada kritik.

2. Tenang

Dalam buku ini beberapa kali saya menyebut tetap tenang dan menghindari kemarahan. Sebagian orang mungkin bertanya mengapa itu sangat penting. Bukankah Alkitab bicara tentang kemarahan Tuhan? Jika Tuhan marah kenapa kita tidak ? mungkin kita perlu memberi perbedaan. Seperti kita membedakan antara menghukum dan mendisiplin, dan antara takut dan hormat, jadi kita perlu membedakan kemarahan daging dan kemarahan yang benar.

Kemarahan Tuhan tidak mungkin emosi berdosa karena Tuhan tidak punya nature berdosa. Lain dari kobaran emosi, kemarahan Tuhan berlawanan dengan dosa. Tidak ada kekhawatiran, kebencian, atau kekasaran didalamnya, tapi hanya kegeraman atas dosa dan dampaknya. Itu tidak egois, tapi penting bagi nature kudusnya. Kemarahan Tuhan benar dan baik.

Seorang Kristen bisa memiliki kemarahan seperti Tuhan, saat kegeraman akan dosa atau ketidak adilan yang menggerakannya untuk melakukan tindakan membangun. Tapi itu dengan tidak egois termotivasi oleh kesalahan yang dilakukan pada orang lain daripada diri sendiri, dan itu bebas dari kekhawatiran, kebencian, dan kekerasan. Itu mungkin maksud perkataan Paulus, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Eph. 4:26a, NIV).

Terlalu banyak orangtua tidak serius saat mereka mencoba mengelompokan kemarahan mereka sebagai kegeraman yang benar. Itu hanya terdiri dari –kegilaan, kesakitan, dan kekerasan. Mereka mengeluarkan kemarahan mereka karena mereka terganggu, tidak nyaman, dipermalukan, atau ditantang, dan nature dosa meliputi semuanya itu. Saat mereka kehilangan kendali, mereka berurusan dengan masalah mereka sendiri, bukan anak, dan mereka tidak menangani masalah dengan baik.

Tuhan punya beberapa perkataan tentang emosi daging ini. “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu” (Psa. 37:8a, TLB). “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (Eph. 4:31, KJV). Untuk membedakannya, yang satu didihan perangai yang kehilangan kendali sedangkan yang lainnya bara yang menyala. Keduanya tidak mendapat tempat dalam kehidupan orangtua Kristen. “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (James 1:20, NIV). Tuhan sudah menyatakan ini pada saya, sangat sering sehingga saya akhirnya meminta anak saya mengatakan kalau kemurkaan saya muncul. Mereka biasanya lupa, tapi tawaran tetap ada. Saya membutuhkan semua pertolongan untuk mengatasi dosaku, termasuk dari anak saya.

Rasul Paulus memerintahkan kita jangan membangkitkan amarah anak kita (Eph. 6:4). Apa yang membangkitkan amarah anak? Biarlah Firman Tuhan yang menjawab. “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Prov. 15:1, NASB). Anak-anak bereaksi seperti orangtua. Saat seseorang bicara kepada mereka dengan nada marah, itu membuat mereka kesal dan memberontak. Itu seperti menggosokan amplas diemosi mereka. Kemudian saat mereka marah, orangtua menjadi lebih marah, dan lingkaran setan berakhir dalam percekcokan yang tidak ada untungnya. Jika anak dipukul dalam kemarahan itu, akan meningkatkan ketakutan dan memperdalam permusuhan. Dan baik dia kena pukul atau tidak, umumnya dia menjadi lebih jengkel dan tidak peduli serta kehilangan rasa hormat pada orangtua karena kemarahan yang ditimbulkan.

Saat cobaan untuk marah mengancam kita, itu saatnya kita bersama Tuhan menyelesaikannya. Jika sebagian bentuk koreksi dibutuhkan, suruh anak keruangannya dan katakan anda akan disana beberapa saat lagi. Kemudian kekamar, berlutut berdoa, dan minta Tuhan menghilangkan emosi yang tidak benar dan menggantikannya dengan ketenangan. Itu akan mempersiapkan anda untuk mendisiplin anak dengan efektif, untuk kebaikannya bukan anda.

“He who is slow to anger is better than the mighty, and he who rules his spirit, than he who captures a city” (Prov. 16:32 NASB).

3. Konsisten

Pola disiplin yang salah sudah umum disebagian besar keluarga. Itu bisa terjadi seperti ini. Billy kecil tidak mengindahkan perintah ibunya karena dia telah belajar mematikan suara ibunya. Itu sangat mudah. Saat saya masih kecil, saya hidup dekat rel kereta utama antar Philadelphia dan New York. Pengunjung dirumah kami merasa suara kereta sangat mengganggu, tapi saya sudah biasa. Kami telah belajar mengecilkan suara itu karena terbiasa dan itulah yang dilakukan Billy. Perintah pertama ibunya tidak lebih dari suara yang mengganggu. Itu tidak berarti apapun, jadi dia tidak mengindahkannya.

Kemudian ibunya mulai merengek. “Saya harap kamu belajar mentaati mama, Billy. Kenapa kamu tidak pernah melakukan perintah mama pertama kali? Saya sudah tidak tahu berbuat apalagi terhadap kamu.” Billy mulai merasakan kepuasan karena wanita kuat ini tidak bisa mengontrol dia. Tapi tidak lama, ibunya mengulangi perintahnya, nadanya makin tinggi, dan kemarahan meningkat. Kadang Billy bisa mendengar dengan baik dan melakukannya tepat pada saatnya sebelum meledak terutama saat mamanya mengeluarkan perkataan rutin “satu……dua…….” Dikejadian lain waktunya meleset dan mamanya meledak dan melakukan pemukulan. Umumnya, mamanya merasa bersalah karena hukumannya berlebihan, jadi hari berikutnya dia berusaha membiarkan Billy melakukan apapun untuk mengganti rasa bersalah itu. Dan Billy secara sistematis belajar seni kenakalan, kehilangan rasa hormat tidak hanya pad orangtuanya, tapi semua otoritas. “Because sentence against an evil work is not executed speedily, therefore the heart of the sons of men is fully set in them to do evil” (Eccl. 8:11, KJV). Solusi bagi situasi tragis ini adalah konsistensi. Koreksi harus dimulai saat ketidaktaatan pertama muncul. Saat pertama kita bicara biasa, kita mengharapkan ketaatan. Jika tidak, maka kita mengkoreksinya. Tidak ada ancaman kosong, peningkatan kemarahan, peningkatan nada teriakan, tapi dengan tenang, baik, dan kasih tapi tegas kalau kita melakukan apa yang kita katakan. Tongkat itu kemudian tidak akan dihubungkan lagi dengan pembalasan tapi dengan kasih, perhatian kasih agar anak kita belajar sukacita dan berkat dari semangat disiplin.

Konsistensi membutuhkan lebih banyak disiplin diri dipihak kita daripada yang lainnya. Menaikan nada suara kita lebih mudah dari berdiri, menghampiri, dan melayani dengan koreksi tegas tapi kasih saat ketidaktaatan pertama muncul. Tapi Tuhan akan menolong kita jika kita mengijinkannya. Buah Roh adalah pengendalian diri (Gal. 5:22-23). Pengendalian diri meliputi kemampuan melakukan hal yang benar disaat yang tepat. Dan waktu yang tepat untuk koreksi adalah saat ketidaktaatan muncul. Kita perlu melakukan tangkat “saat tidur” (Prov. 13:24, KIV), saat dibutuhkan. Saat kita mengijinkan Roh Tuhan mengatasi masalah kemalasan kita, kita mampu mendisiplin anak kita tentang itu.

Konsistensi juga meliputi tidak berubahnya standar yang kita jaga. Inilah cara Tuhan memperlakukan kita. “Akulah Tuhan,” kataNya. “Aku tidak berubah” (Mal. 3:6, KJV). Aturan harus fleksibel, dan pengecualian bisa dilakukan melihat situasi. Tapi secara umum, jika kita ingin mempertahankan prilaku tertentu, maka kita harus menekankan itu terus menerus. Menekankan itu sekarang dan mengabaikannya besok akan membingungkan anak.

Sebaliknya, membiarkan mereka melakukan hal yang tidak boleh sepanjang waktu, kemudian tiba-tiab menghukum mereka karena itu dalam kemarahan, akan menghancurkan tujuan pengajaran kita tentang disiplin diri. Saat kita memutuskan untuk mendidik anak kita dalam jalan Tuhan, kita pertama kali harus memberikan mereka penjelasan kenapa kita menginginkan standart prilaku ini dan bagaimana kita ingin menolong mereka untuk mengingatnya. Kemudian saat kita perlu mengkoreksi mereka, kita mengingatkan kembali kenapa kita mengharapkan ketaatan mereka, bagaimana sekarang ini kita akan menolong mereka mengingat, dan apa yang bisa mereka lakukan dimasa depan untuk menghindari koreksi ini. Perintah bersama dengan koreksi seperti ini akan mulai masuk kedalam prilaku anak dari tidak menyenangkan kepada rasa hormat yang sehat pada kita dan orang lain.

Konsistensi, berarti perjanjian antara ayah dan ibu akan standar prilaku dan metode koreksi. Sebagian anak yang memberontak bertumbuh dalam rumah dimana ayah dan ibunya saling mensabotase otoritas masing-masing. Satu orang terlalu keras dan yang lain terlalu longgar, dan masing-masing saling menandingi. Hasilnya adalah kurangnya rasa hormat diantara mereka. Anak kemudian belajar bagaimana mendapatkan keinginan mereka dengan memainkan orantuanya. Situasi seperti itu bisa dihindari jika ayah dan ibunya membahas masalah disiplin lebih dulu dan menyetujui aturannya dan bagaimana melakukannya. Bahkan saat ada harmonipun, anak-anak kadang berhasil mendapat keputusan berbeda dari orangtuanya. Itu saat untuk membackup, mengadakan pertemuan tingkat tinggi dan menyetujuinya.

Konsistensi juga meliputi menjaga perkataan kita. Jika kita membuat janji dan tidak ada syaratnya, kita tidak boleh melanggarnya. Dengan melakukan itu kita mengajar anak kita untuk melanggar perkataan mereka sendiri. Sebagian janji tidak bisa ditepati karena keadaan diluar control kita, seperti hujan disaat mau piknik atau kebutuhan mendadak yang perlu perhatian langsung. Kejadian itu bisa digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara pelanggaran janji dan terhalang keadaan. Hidup banyak kekecewaan, dan anak kita harus belajar bagaimana mengatasinya sedini mungkin. Kelemah lembutan kita disaat itu akan menolong. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan kepercayaan anak daripada perkataan orangtua yang bisa ditepati.

Konsistensi juga berarti adil. Setiap anak kita memiliki kepribadian dan tingkat kedewasaan yang berbeda, jadi aturan dan metode yang persis sama tidak bisa diberikan kepada setiap anak. Tapi harus ada kesamaan. Saya masih mendengar keluhan anak muda yang berkonsultasi dengan saya tentang orangtua yang tidak peduli pada mereka. Alasannya? Standar yang diberikan pada mereka berbeda dari saudara mereka, dan disiplin yang mereka terima lebih keras. Tuhan adil dalam memperlakukan kita (Psalm 89:14), dan kita juga harus begitu.

4. Kasih

Kita membahas dalam satu bab penuh tentang kasih terhadap anak, tapi kata-kata singkat perlu diulangi dalam konteks disiplin. Bahkan saat tongkat diayunkan, anak kita perlu merasakan kasih sekuat rasa sakit. Sebelum kita mengkoreksi mereka, kita menjelaskan kenapa kasih kita mengharuskan melakukan ini. Setelah kita mengkoreksi mereka, kita memeluk mereka dan terus meyakinkan mereka akan kasih kita. Tuhan akan menggunakan kasih kita untuk mendorong kasih dalam mereka, sampai mereka tumbuh ketitik dimana ketaatan mereka bukan karena menghindari ketidaknyamanan, tapi karena kasih tulus pada Tuhan dan kita. Dan inilah tujuan kedewasaan yang akan kita bangun.

Salah satu kesalahan menyedihkan yang dibuat orangtua adalah mengancam anak mereka dengan menarik kasih kita. “mama tidak sayang lagi kalau kamu lakukan itu.” Komentar seperti itu keluar dari ketidakamanan sang ibu, dan luka batin yang ada lama yang belum sembuh. Tuhan tidak mengancam menarik kasihnya dari anak-anakNya. Dia tetap mengasihi mereka bahkan saat mereka berdosa. Kepada bangsa Israel dia berkata, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Jer. 31:3, TLB). Saat kita mengasihi anak kita dengan kasihNya, itu tidak pernah berubah (1 Cor. 13:7-8). Maka disiplin kita akhirnya untuk keuntungan mereka daripada pengungkapan masalah kita, untuk memberkati semuanya.

 

OPK kali ini melelahkan tapi cukup asyik

Hari ini tepatnya 22 september 2011, aku telah menyelesaikan OSPEK STMIK Wicida.

Dari subuh sampai sore, aku lewati dengan perasaan yang masih was-was dan gugup bertemu teman yang baru saja aku kenal. Meskipun ada beberapa orang yang aku kenal, dari sekolah tempat aku lulus. Saya disini akan menceritakan kejadian-kejadian yang aku alami ini saat kegiatan ospek berlangsung di STMIK Wicida. Baiklah seperti ini ceritanya??!

Kegiatan OSPEK dimulai saat pagi hari tepatnya jam 06.00,  Aku terbangun pada setengah 5 pagi. Namun, karena persiapan yang lambat, jadi aku datang terlambat kesana. Saat sampai disana teman-teman sudah pada mulai dan berbaris berjejer dengan dandanan yang aneh. Ya namanya ospek, kakak senior semaunya sendiri memperlakukan adek kelasnya. Walaupun, ini modus balas dendam. Ya aku terima dengan senang hati. Karena tujuanku ikut OSPEK untuk mendapatkan piagam dari kampus supaya nanti WISUDA nggak ditahan ijazahny, gitu loh.

Lanjut cerita aku sudah sampai nih di kampus, ketika aku sampai di depan pintu gerbang aku gak dibolehkan masuk karena terlambat. Akibatnya aku dihukum, muka aku di stempel kampus sampai hitam-hitam weleh. Setelah itu, aku  memasuki pintu gerbang dan menemui kakak senior disana. Disana, kena hukum lagi disuruh push up, akibat terlambat. Yang sabar!!!. Untungnya kakaknya baik jadi aku sendiri yang nentuin push upx mau berapa kali??. Spontan aku jawab cuman 5 kali. hehe.

Sampai di dalam aku kebingungan karena aku nggak tahu kelompok ospek aku. So’ aku harus mencarinya. Karena aku makin bingung karena nggak ketemu. Langsung deh aku beranikan diri temui kakak yang cantik yang aku kenal disitu, namanya kak endah. Dia yang ngasih tahu aku. Setelah ketemu kelompokku aku lihat ada 1 orang alumni dari sekolahku dia jurusan programmer juga. Tapi aku sebatas kenal doang. Disana aku berbaris bersama teman kelompokku untuk mengdakan kegiatan olahraga. Kemudian, Aku mulai mengenal teman yang baru dan ngomong tentang asal darimana dia. Ternyata, mereka baik-baik, aku senang mendengarnya. Walau nggak banyak, tapi ke depannya aku akan lebih berani lagi. Karena, aku punya cita-cita disana untuk menjadi seorang konsultan IT .

Beginilah foto kebersamaan kami anak Sistem Informasi paling Oke 😀

tentunya aku pake topi kuning tuh paling unyu bulet kaya telur dinosaurus. hehehe ! biarpun gitu aku orangnya ganteng loh. gak percaya ?? tanya papa mamaku. 😀 wkwkwkwk

321661_1549573996254_290452420_n

Banyak belajar tentunya dari kegiatan itu, tidak hanya fokus pada teman dan hukuman yang aku terima. Tapi, disamping itu sifat ego kita harus dikurangin. Seingat saya ya ada kegiatan yang paling berkesan buat saya yaitu, sesi rayuan. hmm, cobanya aku ikut. Tapi, gimana saya masih malu-malu. Hedeh :P. Yaudah, keduluan orang deh, kak endah akhirnya dirayu oleh adek ospek yang menurutku kurang dari standar kegantengan. hahahaha :D. Cenderung mencla mencle gitu. Yaudah, aku hanya nonton dan kak endah menanggapi rayuannya dengan santai tanpa grogi sedikitpun. Gak tau kenapa? mungkin memang adek ospek ini yang ke-GRan makanya jangan ke-GRan lu ngaca dulu dong!. hahahah. Mungkin inilah kesan dari kegiatan yang aku tunjukan kepada sobat cyber’ners.

Mohon dukungan doa dari cyberners ya (sebutan untuk pengunjung blog ini) atau langganan lah, saat aku mengedit tulisan ini saya sudah berada pada titik dimana tinggal beberapa langkah lagi saya akan lulus dari STMIK. Ya mungkin 1 tahun lagi aku bisa lulus. AMIN ! 😀